Selasa, 08 Januari 2019

Posisi

Pada bahasan gerak partikel pada lintasan berupa garis lurus maka posisi yang digunakan cukup satu sumbu koordinat. Gerak semacam ini biasa disebut sebagai gerak satu dimensi. Contoh gerak satu dimensi antara lain gerak mobil saat di jalur lurus jalan tol, gerak kereta api pada rel yang lurus, bisa juga gerak pesawat pada posisi cruising (posisi lintasan tertinggi).
Posisi adalah lokasi benda dalam sumbu koordinat. Sebelum menentukan posisi partikel, sobat fisika harus pastikan dulu mau menggunakan jenis sumbu koordinat-nya. Apakah koordinat kartesius, koordinat bola, koordinat silinder, atau jenis koordinat lainnya. Nah, pada pembahasan kali ini sobat fisika fokus ke sumbu koordinat kartesius ya,. Sumbu koordinat kartesius itu memiliki tiga parameter nilai yaitu x, y, dan z. seperti dijelaskan dimuqadimah, gerak lurus hanya bergerak pada satu sumbu (nilai) maka sobat fisika bisa menggunakan satu diantara tiga yaitu sumbu x , atau y atau z saja. Sobat fisika, pada gerak lurus suatu partikel kita membahas yang lazim dan umum saja ya yaitu menggunakan sumbu x.
Posisi juga bisa diartikan sebagai vektor yang berpangkal dari pusat koordinat ke lokasi partikel. Apa itu pusat koordinat? Sobat fisika, pusat koordinat adalah titik potong semua sumbu koordinat. Posisi itu ternyata adalah vektor dan memiliki lambang r , jika posisi adalah vektor maka posisi itu memiliki besar (nilai) dan arah. Untuk lebih jelasnya, sobat fisika bisa melihat diagram dan keterangan di bawah ini :
Posisi partikel A
Pada gambar di samping suatu partikel A berada pada sumbu x positif sejauh 3 satuan ke arah kanan dari pusat koordinat. Untuk menyatakan posisi r partikel A adalah sebagai berikut
            r = 3i, artinya posisi partikel A berada pada 3 satuan dalam arah x positif.






Apa pentingnya posisi? Hampir semua teknologi canggih di dunia ini menggunakan konsep posisi. Peluncuran roket, pesawat ruang angkasa, autopilot pesawat terbang, peluncuran peluru kendali, penentuan lokasi di permukaan bumi dengan peralatan yang bernama GPS, dan pergerakan robot semuanya melibatkan perhitungan posisi. Bahkan gerakan cartridge printer yang kita gunakan sehari-hari sehingga diperoleh cetakan yang sangat teliti juga melibatkan pengontrolan posisi. Dalam ruang kontrol navigasi pesawat, kapal laut, dan kereta api, yang diamati adalah posisi masing-masing mesin transportasi tersebut.

Sekilas Gerak Lurus

Gerak lurus dalam ilmu fisika membahas tentang gerak suatu partikel dengan lintasan tempuhnya berupa garis lurus. Pada pembahasan gerak lurus dikenal istilah besaran gerak, besaran gerak adalahbesaran fisis yang mendeskripsikan gerak benda. Besaran-besaran yang mendominasi pada bahasan gerak lurus berdasarkan kinematika yakni
lintasan garis lurus
  1. Posisi,
  2. Perpindahan, 
  3. Jarak,
  4. Kecepatan,
  5. Kelajuan, dan
  6. Percepatan.

Besaran kecepatan dan percepatan nantinya akan dibagi lagi dengan mendapat imbuhan akhiran kata rata-rata dan sesaat. Gerak lurus memiliki dua jenis yakni Gerak Lurus Beraturan disingkat GLB dan Gerak Lurus Berubah Beraturan disingkat GLBB. GLB dan GLBB ini tentu saja berbeda makna dan penjelasan. Alat praktikum atau peraga untuk menjelaskan fenomena Gerak Lurus ini biasa menggunakan Ticker Timer. Jika sobat fisika mempunyai aplikasi atau software pembelajaran PhET, kalian juga bisa menikmati fitur Motion dan nanti sobat fisika pilih simulasi The Moving Man untuk melihat fenomena Gerak Lurus secara detail melalui layar monitor komputer kalian.


Profil The Moving Man Simulations

Minggu, 30 September 2018

4 Standar Ponsel Masa Kini Buat Kamu yang Tak Ingin Ketipu Saat Membeli


”Urbandigital”

Persaingan di industri ponsel yang cukup ketat akhir-akhir ini membuat saya memiliki standar sendiri untuk menentukan ponsel mana yang layak untuk dibeli. Karena kalau tidak demikian, terkhusus saya pribadi bisa kebingungan, dan bisa-bisa jadi salah beli.
Apalagi bagi saya yang punya budget selalu terbatas, urusan harga dan kualitas yang diterima harusnya minimal setara, sukur-sukur dapat lebih. Kalau dapatnya di bawah harapan, ya ngalamat akan menyesal sejadi-jadinya.
Padahal saat ini, dalam satu rentang harga saja, kita bisa menjumpai empat hingga lima tipe ponsel, yang bahkan bisa jadi beberapa di antaranya berasal dari perusahaan yang sama. Bahkan, yang cukup membingungkan, ponsel-ponsel tersebut biasanya juga memiliki spesifikasi yang hampir mirip.
Nah, karena hal ini lah, saya menetapkan beberapa standar biar saya sendiri khususnya, dan semoga bisa juga buat teman-teman secara umumnya, dapat menentukan ponsel impian mana yang tepat dan cocok untuk dibeli.

1. Desain dan Warna yang Lebih Estetis
Spesifikasi bagi saya tetap menjadi salah satu kriteria dasar yang wajib kita lihat saat akan memilih ponsel, namun di era yang hampir perusahaan meluncurkan ponsel dengan spesifikasi setara, maka desain dan pewarnaan menjadi aspek yang akan saya pertimbangan dalam memilih ponsel.
Apalagi, bagi saya yang termasuk kaum milennial, di mana eksistensi menjadi hal yang cukup perlu ditunjukkan, ponsel dengan warna yang “nyentrik” menjadi hal yang sangat diperlukan buat menunjukkan eksistensi kita.
Dalam hal ini, jika dulu kita hanya bisa menemukan ponsel dengan tone warna tunggal, sekarang kamu bisa menemukan ponsel dengan warna gradasi atau campuran, seperti warna iris purple yang dikenalkan oleh Huawei untuk mengawali tren ponsel dengan warna unik.

2. Poni Depan Biar Tambah Cantik
Semenjak dipopulerkan oleh Apple melalui iPhone X-nya, tren ponsel dengan poni menjadi cukup booming, hingga banyak perusahaan pengembang ponsel yang mengikuti jejak Apple tersebut.
Meskipun buat sebagian orang cukup “norak” atau aneh, tapi bagi saya pribadi, selain bisa mempercantik tampilan, poni bisa membuat ponsel memiliki ukuran layar yang lebih luas. Tentu saja, dengan hal ini, saya bisa semakin nyaman untuk menonton video atau bermain game.
Khususnya ponsel seperti Huawei Nova 3i https://urbandigital.id/huawei-nova-3i-indonesia/amp/ yang memiliki dagu tipis. Karena ekspansi layarnya dilakukan ke atas dan ke bawah, perangkat jadi punya layar yang benar-benar besar, tidak seperti ponsel berdagu yang sekadar mengikuti tren yang ada.

3. Kamera Ganda Depan-Belakang Berteknologi AI
Kamera pun menjadi salah satu standar yang cukup perlu saya perhatikan dalam memilih ponsel. Alasannya sederhana, hampir sama dengan poin sebelumnya, millenial butuh eksistensi, dan foto adalah salah satu media yang sangat tepat untuk digunakan.
Dan tentu saja, dalam hal ini butuh kamera yang cukup mumpuni. Oleh karena itu, ponsel yang saya pilih adalah ponsel dengan teknologi kamera ganda https://www.viva.co.id/digital/teknopedia/1004249-7-fakta-dual-camera-di-smartphone-nomor-6-tak-disangka, dan kalau bisa di kedua bagian kameranya, seperti yang ditawarkan Huawei Nova 3i.
Sejak tahun 2017 lalu, tren kamera ganda hadir sebagai solusi, terutama untuk berbagai macam keterbatasan yang dimiliki lensa kamera pada berbagai tipe ponsel berkamera tunggal.
Tidak bisa dipungkiri memang, sebagus apapun lensa yang dimiliki oleh ponsel tidak akan bisa bekerja lebih baik mengalahkan kamera sesungguhnya. Untuk itu, untuk menambah kemampuannya, lensa dibuat ganda dengan kemampuan yang berbeda-beda.
Salah satu kombinasi yang cukup pas dalam hal ini adalah kombinasi lensa utama untuk menangkap obyek secara utuh supaya warna dan detailnya dapat, dikombinasikan dengan lensa kedalaman untuk memudahkan untuk membedakan obyek utama dengan background-nya.
Tentu saja, kedua hasilnya akan digabung dalam software tertentu, yang nantinya bisa menghasilkan foto berkualitas. Hasil ini akan lebih baik lagi jika yang mengolahnya tidak hanya sekedar software, tetapi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Dengan kecerdasan buatan seperti yang ditawarkan Huawei dalam perangkat Huawei Nova 3i, perangkat tidak hanya sekedar mengolah gambar menjadi satu gambar tetapi dapat membedakan berbagai macam obyek dan skema, sehingga foto dapat menjadi sangat bagus.

4. Spesifikasi Mumpuni untuk Melahap Ragam Aplikasi
Seperti yang saya ulas sebelumnya, spesifikasi adalah hal yang paling mendasar dalam memilih ponsel yang akan saya beli. Mengapa demikian? Jawabnya, ya karena saya suka melakukan multitasking,bermain game dan pekerjaan berat lainnya.
Dalam hal ini, tentu saja saya dasarkan pada jenis chipset, RAM dan memori internalnya. Dengan kombinasi yang pas, maka ponsel benar-benar akan menjadi sangat bertenaga.
Salah satu chipset kesukaan saya adalah seri Kirin buatan Huawei. Dalam beberapa kondisi, seri chipset buatan Huawei ini bahkan bisa mengalahkan kompetitornya dalam level yang sama.
Di seri menengah, Hisilicon Kirin 710 https://gadgetren.com/2018/07/19/kirin-710-chipset-canggih-12nm-pertama-huawei-yang-jadi-otak-huawei-nova-3i/ bisa menjadi pilihan, mengingat kemampuannya yang cukup bisa dibandingkan dengan kemampuan chipset-chipset untuk kelas perangkat flagship.
Didukung dengan RAM sebesar 4 GB, chipset ini bisa menawarkan kemampuan pemrosesan yang cukup mumpuni untuk digunakan melahap game atau aplikasi berat sekalipun apalagi hanya digunakan untuk aktivitas harian.
Selain itu, dukungan memori internal yang luas juga sangat diperlukan. Karena seperti yang pernah saya alami, penuhnya kapasitas penyimpanan, dapat membuat perangkat berjalan menjadi lebih lambat.
Memori 128GB Huawei Nova 3i bisa menjadi solusi yang tepat dalam hal ini. Dengan besarnya memori internal sebesar ini, perangkat tentu tidak akan mudah kehabisan tempat penyimpan, baik diisi dengan game berkualitas HD, musik, dan video sekalipun.

Sabtu, 05 Maret 2016

Siswa pun mulai Bertanya ???


Proses pembelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba seorang siswa “nyeletuk” bertanya, “Pak guru, materi itu dalam kehidupan sehari-hari untuk apa?”. Belakangan ini, saya tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apakah itu hal yang biasa atau ada makna yang ingin disampaikan oleh siswa?. Seharusnya kita(orang yang lebih tua-red) merasa bangga bahwa ternyata siswa-siswa sekarang mulai berpikir kritis akan ilmu yang mereka peroleh. Seolah-olah mungkin saja tanpa kita sadari siswa itu ingin memperoleh ilmu yang bisa diaplikasikan atau berguna bagi kehidupannya. Jika saja setiap siswa memiliki pemikiran seperti itu, maka mengapa para stakeholder bidang pendidikan tidak memikirkan hal itu. Oh, bisa jadi mereka sudah memikirkan hal tersebut keluarlah Kurikulum 2013. Saya tidak akan membahas Kurtilas.

Sebuah negara di Eropa -bisa dikatakan- melakukan reformasi besar-besaran pada bidang Pendidikan. Reformasi itu berupa penghapusan beberapa mata pelajaran sains dan perubahan sistem kelola kelas. Siswa akan belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika siswa ingin menjadi Arsitek maka siswa hanya akan memperoleh ilmu-ilmu matik dan sains yang hanya berhubungan dengan Arsitek. Pendidikan yang diperoleh siswa sudah disiapkan untuk kebutuhannya kelak. Bisakah pendidikan kita seperti itu? Mari berjuang bersama. Kembali ke pertanyaan siswa di paragraf awal tadi, bisa jadi ini makna dan maksud dari siswa-siswa itu. Setiap siswa memiliki kecerdasan jamak (multiple intelegence) masing-masing dan seharusnya pendidikan mampu mengembangkan kemampuan siswa secara optimal.

Sabtu, 13 Februari 2016

Belajar dari Pendidikan


Apakah Anda seorang pendidik atau guru atau apalah sebutannya? Pernah mengalami siswa Anda ribut sendiri ketika diterangkan? Siswa Anda tidur dengan pulasnya di kelas saat jam pelajaran baru saja dimulai?
Guru akronim dari digugu lan ditiru
(sumber : image from google)


Ya itu lah kenangan indah menjadi seorang “guru”. Bertemu banyak karakter siswa , tingkah laku mereka selalu membuat diri ini tersenyum bingung. Menjadi guru profesional harus melewati proses panjang nan “melelahkan” , dan semua itu berawal dari “guru amatiran”. Ilmu-ilmu dasar dari bangku kuliah cukup sebagai bekal pembuka saja, selanjutnya “pengalaman” yang akan banyak mengisi bekalmu selanjutnya. Tidak ada proses yang instan untuk mencapai hasil yang berkesan. Nikamtilah proses itu kawan, seperti aku ini yang baru memulai karir sebagai “guru amatiran”.

Aku baru saja merasakan mengajar langsung bertemu dengan anak-anak se-usia MTs dan MA. Banting setir itu lah yang aku lakukan, pengalaman setahun menjadi tutor mahasiswa di sebuah universitas kemudian beralih menjadi “guru amatiran”. Beda? Sangat berbeda guys, :D . kenapa “guru amatiran” ? ya karena baru 7 bulan aku berada di sekolah ini, masih perlu banyak belajar dari senior-senior yang telah berpuluh tahun mengabdikan diri untuk pendidikan. Proses pembelajaran ini sangat berkesan guna menyiapkan diriku benar-benar menjadi “guru profesional”.

Entah dimanapun nanti aku mengabdi menjadi seorang “guru”, biarlah idealisme pendidikan itu memanusiakan manusia terus tertancap dalam hatiku.



Salam Pendidik,

Mata Hati

Jagalah Mata Hatimu


Mata hati,
Pernahkah kau tahu,
Ia selalu melihatmu
Ia selalu merasakan kehadiranmu,
Ia selalu mengawasimu,
Ia selalu bersamamu,
Ah, pasti kau sudah tahu,
            Tapi, Ia selalu merahasiakan kau
            Merahasiakan antar mata hati
            Tak ada yang tahu mata hati siapa ke siapa
            Ia selalu menjaga antar mata hati
            Menjaga selalu suci,
Mata hati,
Tahukah yang membuatmu tak lagi suci,
Bukan Ia sungguh bukan Ia,
Mau tahukah kau, mata hati
Itu adalah nafsu,
Nafsu overdosis,
Nafsu tak terkendali,
Nasfu yang melegalkan sesamamu
Sungguh bukan Ia, mata hati
Tapi nafsu lah pelakunya,
            Mata hati,
            Kendalikan, kendalikan lah nafsumu
            Biar kau tetap suci , mata hati
            Biar Ia selalu menjagamu sampai
            Ia mempertemukan antaramu yang berbeda
            Diikatan antar mata hati yang diridhoi oleh-Nya

Secangkir Kopi untuk Pendidik

ilustrasi gambar kopi


Secangki kopi hangat menemani pagi hari yang penuh dengan sinaran cahaya matahari. Mari rehat sejenak dari segala aktivitas untuk menikmati pagi ini. Ulasan sekilas tentang hal-hal menarik minggu ini,
Media sosial menjadi sarana tukar menukar informasi yang begitu cepat. Situs-situs “penjual” berita bagai jamur di musim hujan. Arus informasi begitu cepat sudah menjadi hal yang biasa, meskipun perlu hati-hati dan kecermatan dalam memahami isi berita yang disajikan. Beberapa hari ini, media elektronik cetak bahkan sosial ramai memperbincangkan nasib “guru-guru” honorer yang rela menuntut janji (demo-red) di depan Istana Negara. Guru-guru “besar” rela berdatangan dari seluruh penjuru negeri guna merasakan “kenaikkan level strata sosial” menjadi PNS (pegawai negeri sipil). Medan magnet PNS begitu besar sekali menjanjikan kelayakan hidup. Apakah mereka salah menuntut janji itu? Tidak. Sebagai aksi tandingan munculah “tautan-tautan” berita sisi pemerintah. Guru-guru yang berdemo adalah mereka yang tidak lulus kualifikasi begitu ujar Mendikbud. Apakah yang pro pemerintah salah? Tidak. Kenapa? Karena baik guru honorer yang menuntut maupun “tautan” pro pemerintah sama-sama memiliki alasan dan tujuan serta perspektif masing-masing.

Kawan-kawan, pendidikan itu memanusiakan manusia. Bila ada yang berkata “mendidik mengajar adalah panggilan jiwa” dapat dibenarkan secara idealisme. Namun, manusia juga perlu melengkapi sandang papan pangan. Nah, orientasinya sudah berbeda ingin mendidik siswa atau mencari materi. Perdebatan ini seperti dua buah garis linier yang memiliki gradien sama tak pernah bertemu. Sungguh menjadi bijak jika kedua perspektif itu mampu disatukan menjadi perpaduan yang indah. Berbagai tunjangan hidup disetarakan dengan totalitas mendidik mengajar siswa guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi, guru itu Profesi atau Pahwalan tanpa tanda Jasa ??? masih menjadi teka teki yang semua kembali ke pribadi masing-masing.
Thanks.

Tambah Pengalaman (Latihan Soal)

Sobat fisika, seperti yang dijanjikan pada postingan sebelumnya , bahwa pada postingan ini sobat fisika belajar menemukan solusi dari sebu...