bulan April menjadi bulan dengan hari-harinya yang penuh dengan aktifitas yang menguras otak dan tenaga,, menjadi bulan yang sangat menarik karena dibulan ini lah titik balik untuk kedepannya tak mudah mendapatkan kata SUKSES butuh kerja keras dan pengorbanan yang lebih,,
mencoba untuk memberi kepercayaan kepada orang lain tapi sayang sekali kepercayaan yang diberikan tidak dijalankan dengan baik,,, mungkin mereka terlalu sibuk dengan urusan pribadi mereka masing-masing,,, belum saatnya diberi amanat mungkin,
tapi jika tidak mulai dari sekarang kapan akan berproses menuju dewasa,,
tak mau kan selamanya disebut sebagai anak kecil,
ya sudah lah mungkin suatu saat nanti mereka bisa menjalankan amanat atau kepercayaan yang diberikan dengan baik,,,.
Jumat, 13 April 2012
Sabtu, 24 Maret 2012
Cahaya Ilahi
Cahaya Ilahi
Titian
Menuju Taqwa
Allah SWT. berfirman dalam surah Al-Baqarah : 183,
yang artinya sebagai berikut
“Wahai
orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu puasa (Ramadhan), sebagaimana
puasa itu diwajibkan kepada orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu menjadi
taqwa”. (
Al Baqarah/2:183 )
Allah SWT sangat mencintai orang-orang mukmin diatas
cintaNya terhadap manusia secara umum dan diatas cintaNya kepada orang-orang
kafir. Hal ini dapat dilihat antara lain, Allah SWT 89 kali memanggil kepada
hambaNya yang mukmin dengan panggilan Yaa ayyuhal ladziina amanuu, 19 kali
Allah memanggil manusia dengan panggilan Yaa ayyuhan nas, 2 kali dengan
panggilan Yaa ayyuhal insan. Dua kali dalam Alqur’an Allah SWT memanggil orang
kafir dengan redaksi Ya Ayyuhal Kaafirun.
Mayoritas ahli tafsir menyatakan, bahwa surat Al
Baqarah/2 : 183 itu turun pada akhir bulan Sya’ban tahun kedua Hijiriyah. Ayat
183 surat Al Baqarah itu mengandung tiga hal yang pokok. Ialah wajibnya puasa
Ramadhan, sejarah puasa dan tujuan puasa.
Sebelum Ramadhan menjadi bulan puasa, Rasulullah saw
mendapatkan penduduk puasa bulan Asyura yang hukumnya wajib. Tetapi setelah
puasa Ramadhan diwajibkan, puasa Asyura menjadi sunnah.
Puasa diwajibkan tidak hanya umat Nabi Muhammad saw
saja, tetapi umat Nabi-nabi dahulu juga pernah diwajibkan puasa juga. Nabi
Zakariya puasanya tiga malam tidak bicara (Maryam/19:10), Sayyidatina Maryam
(ibunda Nabi Isa as), puasanya tidak berbicara dan puasa nabi Dawud as sehari
puasa sehari tidak puasa.
Tujuan puasa ialah meningkatkan diri untuk mencapai
taqwa. Tentang ciri-ciri orang-orang yang taqwa, antara lain bisa dilihat pada
surat Al Baqarah /2:3-5 dan ayat 177, serta surat Ali Imran/3:134-135.
Sang Surya
sang Surya...
ku harap esok sinarmu,,,
untuk
dedaunan yang mulai layu..,
batang yang hampir tumbang,,,
dan
akar-akar yang hampir mati,,,,
serta
semangat yang hampir memudar...
sehingga
tumbuh lagi terus berkembang
menjadi setitik cahaya yang tenggelam di lautan cahaya tuk menyinari dunia
selayaknya Surya di ufuk Timur.
ku harap esok sinarmu,,,
untukdedaunan yang mulai layu..,
batang yang hampir tumbang,,,
dan
akar-akar yang hampir mati,,,,
serta
semangat yang hampir memudar...
sehingga
tumbuh lagi terus berkembang
menjadi setitik cahaya yang tenggelam di lautan cahaya tuk menyinari dunia
selayaknya Surya di ufuk Timur.
Sabtu, 17 Maret 2012
Saya kembali
Hari Jum'at dan Sabtu tanggal 16 dan 17 Maret 2012 untuk pertama kalinya setelah 3 tahun vakum, saya melakukan hal yang sudah lama ditinggalkan,,,,
Ya, melakukan hal baru ketika menjabat sebagai seorang Mahasiswa,
Mondar mandir ke Prodi dan membuat janji dengan Ketua BEM PS Pend. Fisika serta dengan SEMA Fak Saintek hanya untuk meminta tandatangan mereka guna kelancaran Proposal Pengajuan Dana,,
Melelahkan memang tapi saya kembali teringat hal yang sama saya lakukan tepatnya 3 tahun lalu ketika diamanati menjadi Ketua Kegiatan Perkemahan PMR dan ROHIS, hal yang sama juga mondar mandir ke ruang Guru mencari Pembimbing dan Wakasek bidang Kesiswaan hanya untuk mendapat tandatangan beliau-beliau,
Baru besoknya maju ke Kepala Sekolah,,,,
Hal yang sama juga Insya Allah besok Senin mau maju ke Pembantu Dekan III Bidang Kemasiswaan,,
ya,,, semoga Allah memudahkan semuanya,,,,
tentu saya tidak sendiri mengurusi semua ini,,,
namanya juga Organisasi ya harus bekerja sama dengan Pengurus yang lain,,,
langkah awal untuk terus berkarya,,,
Terus Berkarya Teman-Teman dan menjadi Tim yang Solid dalam Innovation Club untuk kemajuan bersama
demi prodi Pendidikan Fisika dan almamater tercinta UIN SunanKalijaga Yogyakarta,,,
Ya, melakukan hal baru ketika menjabat sebagai seorang Mahasiswa,
Mondar mandir ke Prodi dan membuat janji dengan Ketua BEM PS Pend. Fisika serta dengan SEMA Fak Saintek hanya untuk meminta tandatangan mereka guna kelancaran Proposal Pengajuan Dana,,
Melelahkan memang tapi saya kembali teringat hal yang sama saya lakukan tepatnya 3 tahun lalu ketika diamanati menjadi Ketua Kegiatan Perkemahan PMR dan ROHIS, hal yang sama juga mondar mandir ke ruang Guru mencari Pembimbing dan Wakasek bidang Kesiswaan hanya untuk mendapat tandatangan beliau-beliau,
Baru besoknya maju ke Kepala Sekolah,,,,
Hal yang sama juga Insya Allah besok Senin mau maju ke Pembantu Dekan III Bidang Kemasiswaan,,
ya,,, semoga Allah memudahkan semuanya,,,,
tentu saya tidak sendiri mengurusi semua ini,,,
namanya juga Organisasi ya harus bekerja sama dengan Pengurus yang lain,,,
langkah awal untuk terus berkarya,,,
Terus Berkarya Teman-Teman dan menjadi Tim yang Solid dalam Innovation Club untuk kemajuan bersama
demi prodi Pendidikan Fisika dan almamater tercinta UIN SunanKalijaga Yogyakarta,,,
Jumat, 02 Maret 2012
Hormat Pada Bendera
Hormat pada Bendera
Terjemah
sebuah Hadits
“Diriwayatkan
dari Anas bin Malik ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: Zaed
membawa bendera, namun kemudian ia terluka. Ja’far lalu mengambilnya, namun
kemudian ia terluka. Abdullah bin Rawahah lalu mengambilnya dan kemudian juga
terluka. Sesungguhnya kedua mata Rasul meneteskan air mata, tanpa ada perintah
Khalid bin Walid kemudian mengambil bendera itu, akhirnya ia mendapatkan
kemenangan.” (HR. Bukhari)
Fiqh
al Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada kitab
shahihnya pada hadits nomor: 1246. Kitab al Janaiz, bab al Rajul Yan’a ila ahli al mayyit binafsihi. Hadits ini bercerita
tentang penghormatan bendera yang terjadi pada masa nabi Muhammad saw. Ketika
seseorang yang ditugasi membawa bendera terluka, sehingga ia tidak bisa menunaikan
tugasnya untuk membawa bendera dengan baik, maka sahabat lain segera
menggantikan posisi orang yang terluka tersebut.
Muhammad Said al Bugha seorang ulama Syuria
menjelaskan bahwa hadits ini bercerita tentang peristiwa penghormatan bendera
yang dilakukan oleh para sahabat pada perang Mu’tah.
Mengapa para sahabat begitu gigih mempertahankan
bendera mereka? Bukankah bendera hanya sepotong kain dengan warna tertentu?
Apakah sikap sahabat ini tidak berlebihan, karena mereka telah mengkultuskan
sebuah kain. Apakah mereka tidak tahu bahwa pengkultusan terhadap segala
sesuatu selain Allah adalah tindakan syirik yang merupakan dosa besar yang
tidak pernah diampuni oleh Allah SWT.
Sahabat adalah orang yang dekat dengan Nabi,
tentunya mereka sangat tahu tentang syirik. Kalau penghormatan terhadap bendera
itu merupakan perbuatan syirik, tentunya mereka adalah orang-orang pertama yang
meninggalkannya.
Segala sesuatu harus ditempatkan pada tempatnya.
Meskipun bendera hanya sebuah kain, namun bendera merupakan simbol eksistensi
suatu komunitas. Ketika bendera suatu komunitas itu masih berkibar, itu artinya
komunitas itu masih eksis. Ketika bendera itu sudah tidak lagi berkibar, itu
berarti bahwa komunitas itu sudah tidak eksis.
Logika ini sudah menjadi logika umum, termasuk
didalamnya para sahabat yang mati-matian mempertahankan bendera sebagaimana
dijelaskan dalam hadits riwayat Imam Bukhari di atas. Logika mereka sama,
ketika bendera mereka berkibar, itu artinya mereka masih eksis.
Selain diposisikan sebagai simbol suatu komunitas,
bendera juga diposisikan sebagai media pemersatu. Logika yang sama juga terjadi
pada masa nabi. Pada zaman nabi ada bendera yang ukurannya kecil. Bendera ini
biasanya dipasang di ujung tombak. Bendera ini dibawa oleh semacam komandan
pleton, dimana masing-masing pleton punya bendera kecil yang berbeda-beda.
Bendera kecil ini disebut dengan liwa’.
Selain bendera yang ukurannya kecil, juga dikenal
bendera yang ukurannya besar. Bendera ini dikenal dengan istilah rayah. Bendera ini tidak dibawa oleh
pasukan, akan tetapi ditancapkan pada suatu tempat, dan dibiarkan berkibar
diterjang oleh angin.
Logika yang sama juga disampaikan oleh lembaga fatwa
Mesir yang membolehkan upacara bendera. Dalam fatwa itu dijelaskan bahwa
penghormatan terhadap bendera yang diiringi dengan lagu kebangsaan dan
memberikan isyarat dengan tangan merupakan tanda loyalitas pada negara,
menyatukan garis komando dan menghidupkan semangat bela Negara. Ini semua tidak
masuk dalam konteks ibadah, tidak ada sholat dan dzikir di dalamnya sehingga
ini semua tidak bisa disebut bid’ah
atau ibadah pada Allah SWT.
Pendapat yang berbeda disampaikan oleh ulama Saudi
seperti Abdullah bin Baz, dalam Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Riset Fatwa
(Lajnah ad Daimah li al Buhuts al
‘Ilmiyyah wa al Ifta). Mereka berpendapat bahwa penghormatan terhadap
bendera dengan menyanyikan lagu kebangsaan hukumnya haram. Pendapat mereka ini
yang dijadikan dasar oleh mereka yang menamakan dirinya sebagai kelompok salafi
di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Mana yang benar, Allahu
A’lam, yang jelas mereka yang melakukan upacara bendera yang dituduh telah
melakukan perbuatan bid’ah dan syirik memiliki argumennya sendiri, dan argumen
itu bisa dipertanggungjawabkan dan memiliki dasar yang kuat dari Qur’an maupun
sunnah.
Tulisan ini, bukan dimaksudkan untuk memperuncing
perbedaan pendapat, akan tetapi dimaksudkan untuk memberikan keyakinan pada
mereka yang terbiasa dengan upacara bendera, bahwa aktivitas mereka bukanlah
perbuatan yang menyimpang dari agama.
Ditulis oleh H Amin Handoyo, Lc dalam Majalah
Rindang Edisi No. 01 Th. XXXVII Ramadhan 1432 H/Agustus 2011 halaman 43-44
tanpa perubahan.
Lentera Hadis 2
Segeralah
Bersedekah
“Bersedekalah
kalian, akan datang suatu masa di mana seseorang berjalan menawarkan sedekahnya
(kepada setiap orang yang ditemuinya). Namun setiap orang yang ditawari sedekah
menjawab : “Seandainya engkau datang kemarin, pasti aku akan menerima
sedekahmu. Adapun sekarang, aku tidak mau menerima”. Akhirnya dia tidak
mendapatkan seorang pun yang mau menerima sedekahnya”.(HR
Syaikhan dari Haritsah bin Ahab)
Bersedekah adalah sebagian dari amal perbuatan yang
terpuji, pahalanya sungguh amat besar. Agar umatnya tidak melewatkan amal
perbuatan terpuji itu, Rasulluah menyerukan kepada umatnya agar segera
mengeluarkan sedekah. Kalau tidak, nanti harta yang akan disedekahkan tidak ada
gunanya karena tidak ada orang yang mau menerimanya.
Kalau akan terjadi suatu masa di mana semua orang
tidak mau menerima sedekah, bukan berarti saat itu semua orang sudah kaya,
tidak. Tetapi saat itu perhatian orang sudah tidak kepada duniawi, tetapi
perhatiannya sudah terfokus kepada peristiwa yang terjadi, yaitu huru hara yang
terjadi sebagaimana proses terjadinya hari kiamat.
Disadur
dari :
Majalah
Rindang No. 02 Th. XXXVI Ramadhan 1431 H / September 2010 M
cahaya ilahi
Cahaya Ilahi
Hidayah
Allah SWT berfirman dalam surat Al An’am/6 : 125
yang artinya sebagai berikut
“Barang siapa
yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang
dikehendaki Allah kesesatan, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit,
seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa
kepada orang-orang yang tidak beriman”. (Al An’am/6 : 125)
Rasulullah saw pernah ditanya tentang “kelapangan
dada” yang dimaksud dalam ayat ini, lalu beliau menjawab:
“Itulah gambaran
cahaya Ilahi yang menyinari hati orang mukmin, sehingga menjadi lapanglah
dadanya”. Para sahabat bertanya lagi : “Apakah yang demikian itu ada
tanda-tandanya?”. Rasul menjawab : “Ada tanda-tandanya, yaitu jiwanya selalu
condong kepada akhirat, selalu menjauhkan diri dari tipu daya keduniaan dan
selalu bersiap-siap untuk menghadapi kematian”. (HR.
Ibnu Abi Hatim dari Abdullah bin Mas’ud)
Salah satu ciri orang yang akan mendapat hidayah
Dinul Islam, ialah dia menyikapi seluruh ajaran Islam ini dengan lapang dada,
optimisme, karena pada hakekatnya seluruh ajaran Islam itu adalah sebagai
nikmat. Sebaliknya orang yang akan disesatkan oleh Allah, selalu menyikapi
ajaran Islam ini dengan pesimis, sinis, dan sesak dada.
Untuk bisa menyikapi bahwa keseluruhan ajaran agama
Islam adalah sebuah kenikmatan, harus mendahulukan iman daripada rasio. Kalau
menyikapi Islam dengan mendahulukan rasio dan membelakangan iman, pasti membuat
orang sesak dada, karena akal manusia sungguh amat sangat terbatas. Semoga
hidayah Allah SWT senantiasa menyertai kita. Amin.
Disadur
dari :
Majalah
Rindang No. 11 Th. XXXVI Rajab 1432 H / Juni 2011 M
Langganan:
Postingan (Atom)
Tambah Pengalaman (Latihan Soal)
Sobat fisika, seperti yang dijanjikan pada postingan sebelumnya , bahwa pada postingan ini sobat fisika belajar menemukan solusi dari sebu...
-
Sobat fisika pastinya sudah tidak asing lagi dengan istilah Jarak kan atau biasa dikenal dengan sebutan jarak tempuh. Ternyata masih bany...
-
Sobat fisika pasti tahu lawan kata dari cepat adalah lambat ya , misalkan hewan siput kita lombakan dengan katak agar berpindah sejauh 2 m...
-
Sobat fisika, seperti yang dijanjikan pada postingan sebelumnya , bahwa pada postingan ini sobat fisika belajar menemukan solusi dari sebu...