Permasalahan pendidikan di Negeri
Gingseng menimbulkan berbagai peluang dan ancaman tersendiri bagi Indonesia.
Sebagaimana dewasa ini, arus informasi begitu cepat diterima oleh netizen
meskipun lokasi terpaut begitu jauh. Seperti halnya, rendahnya angka partisipasi
pemuda Korea dalam meneruskan jenjang pendidikan magister dan doktoral.
Pemerintah Indonesia melalui duta besar di Korea telah melakukan Mou dengan
Presiden Korea dalam bidang pendidikan. Hal ini dapat menjadi peluang bagus
bagi mahasiswa Indonesia untuk mendapatkan beasiswa baik magister maupun
doktoral di Negeri Gingseng. Data menunjukkan peningkatan jumlah mahasiswa
Indonesia dalam kurun waktu 2004 yang hanya 70 mahasiswa hingga 2014 sudah
mencapai 1200 mahasiswa (web KBRI Korea, 2014). Fasilitas kampus yang begitu
hebat dapat menunjang mahasiswa Indonesia guna mencapai kemampuan terbaik dalam
setiap bidang yang diminati. Namun, dibalik peluang pendidikan yang begitu
bagus tersebut, para pemuda pemudi Indonesia sedang kehilangan identitas diri.
Teknologi yang begitu canggih memudahkan tukar menukar informasi, gaya hidup
pemuda-pemudi Korea telah menjadi kiblat life
style kehidupan generasi muda Indonesia. Hilangnya filter dari pemerintah,
masyarakat, ataupun orangtua menjadikan budaya asing ini semakin merajalela.
Generasi muda sekarang lebih bangga dan enjoy
dengan gaya-gaya mirip artis Korea mulai dari bahasa, perilaku, sampai penampilan
diri. Entitas sebagai warga Indonesia yang memiliki adat “ketimuran” sudah
mulai ditinggalkan. Tata krama dan sopan santun tidak lagi menjadi hal penting
yang perlu dibudayakan. Semua pemangku kebijakan harus segera bertindak membuat
filter yang jelas, memberikan batasan-batasan penayangan film asing, dan
pendidikan Pancasila perlu kembali digalakan. Dengan demikian, diharapkan dua
atau tiga generasi selanjutnya masih mengenal tentang entitas unik warga
Indonesia yaitu budaya “ketimuran”nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar